Tuhoe-04.pdf (153 downloads)

Menimang

Pagi itu, jarum jam belum sempurna betul menuju pukul 08.00. Biasanya aktivitas di kantor JKMA Aceh akan terasa lebih hidup dimulai pukul 09.00. Paling tidak masih punya waktu satu jam untuk memulai aktivitas rutin, begitu batinku. Kuputuskan untuk singgah di Solong, warung kopi yang selalu diserbu berbagai kalangan di kawasan Ulee Kareng, Banda Aceh.

Seperti biasa tentu aku akan bertemu dengan beberapa kolega, bercengkrama, berbagi informasi dan tentu mendulang inspirasi baru dari obrolan yang tidak pernah setia pada satu topik tertentu. Beruntung kali ini aku ketemu dengan teman yang sudah agak lama tidak bertemu. Saling berkabar, tentu itu mengawali pembicaraan kami. Lalu kami melanjutkan cerita-cerita tentang mengelola banyak orang. Dari negara hingga gampông. Dari organisasi jaringan hingga kelompok swadaya masyarakat.

Dari berbagai kisah itu yang paling mengesankan adalah filosofi menimang. Ya menimang adalah aktivitas meninabobokkan seorang bayi. Ini aktivitas yang sering kita temui. Bila kita tak memaknainya, atau mencoba merenunginya, tentu ia hanya biasa-biasa saja. Tapi dalam percakapan pagi itu kami mencoba memberi nilai lebih, menelusuri nilai dibalik prosesi menimang.

Menimang sesungguhnya sebagaimana kita mengelola sebuah organisasi, baik negara maupun kelompok kecil. Proses menimang juga selalu diiringi dengan lagu atau puji-pujian, agar si Bayi bisa tidur dengan nyaman, tentu dipadukan dengan mengayunnya. Bila salah kita mengayun maka sang bayi akan terganggu tidurnya, meronta, atau bahkan menangis dan memberontak. Bila kita bernyanyi dan iramanya tidak tepat sang bayi juga tak kan dapat menikmati dan semakin lama ia akan terlelap.

Begitu pula bila kita kaitkan dengan mengelola organisasi, apalagi bila kita salah dalam membawakannya maka akan muncul perlawanan-perlawanan. Bila kita sumbang dalam memimpin maka akan mengakibatkan ketidaknyamanan. Lalu kita akan berjuang lebih lama untuk membuatnya stabil dan nyaman serta produktif.

Jangan pernah mengira hanya tempat menimang yang sudah baik dan wangi otomatis akan membuat sang bayi bisa tidur nyaman. Sekali lagi tergantung arah, gerak ayunan dan kepaduan nadalah yang akan membuat suasana lebih nyaman. Dalam kain tua sekalipun bayi bisa tidur dengan nyaman, setelah ia biasa dan mampu menyesuaikan diri – dan kita juga mengayun dan bernyanyi dengan baik.

Yang pasti pilihan lagu atau puji-pujian juga bagian dari proses belajar. Karena kata seorang pakar, proses belajar 90 % dilakukan tanpa sadar. Begitu pula sang bayi ia akan tumbuh dan berkembang dengan pelajaran yang dimulai dari ayunan. Jadi pilihan lagu dan puji-pujian mestilah yang sarat makna, imaginatif dan inspiratif, sebab ia akan membekas.

Karena itu maafkanlah bila tuhoe dalam mengelola, memberi makna, masih belum bisa membuat Anda nyaman. Tentu tuhoe akan tetap berusaha agar Anda dapat menikmati dan belajar tentang bagaimana mengelola sebuah komunitas. Gerak ayunan, dan lagu atau puji-pujian yang kami sajikan adalah bagian dari proses belajar itu sendiri. Sebagaimana satu filosofi dan imaginasi yang disampaikan oleh pak Tawar dari Lut Tawar bahwa mengelola organisasi yang bervisi untuk mengembalikan hak-hak masyarakat adat adalah ibarat ”merajut pasir menjadi tali, dan menempa batu menjadi perahu”, untuk mewujudkan ini maka kita harus tuhoe: mengerti, paham dan bertindak. Semoga