Tuhoe-03.pdf (132 downloads)

Metamorfosa Membakar Tunggul

Alkisah, seorang cucu bertanya kepada kakeknya, mengapa si kakek membakar tunggul yang menurut si cucu adalah tempat bersandar dan bermain. Tunggul itu, kata si cucu, terpotong rapi sehingga dapat dijadikan pengganti kursi. “Lantas, mengapa kakek membakarnya?”

Si kakek dengan enteng menjawab, banyak semut di tunggul itu. “Nanti semut akan masuk ke rumah kita dan memakan gula serta yang manis-manis di rumah kita sehingga kita tidak kebagian apa-apa lagi,” sahut kakek.

Cuplikan sahibul di atas yang sangat mengena adalah kata “bakar”. Bakar secara sederhana dapat dimaknai menghilangkan sesuatu dengan api. Maka, dalam konteks puasa Ramadhan bulan kemarin, kita sedang melakukan pembakaran. Kita, segenap umat Islam, telah membakar segala iri, dengki, khianat, dan semua sifat mazmumah dari dalam diri kita sehingga pada 13 Oktober 2007, kembali suci.

Artinya, kata “bakar” dalam konteks ini bermakna pembersihan diri. Namun, dalam konteks lain, tahukah kita bahwa pembakaran juga menimbulkan kerugian pada satu pihak?

Misalkan saja apa yang dilakukan oleh Polres Kota Langsa terhadap LBH Banda Aceh. Hal itu dapat kita tamsilkan sebagai sebuah pembakaran jantung sebuah lembaga bantuan hukum di bumi Serambi Makkah.

Pasalnya, hanya karena sebuah demonstrasi yang dilakukan sejumlah masyarakat, beberapa anggota LBH Banda Aceh dipanggil dengan tuduhan terlibat aksi. Maka, antara pihak kepolisian, dalam hal ini Polresta Langsa, dengan pihak LBH adalah sebuah metamorfosa membakar tunggul serupa dongeng di atas.

Hukum di Indonesia diibaratkan tunggul tempat orang mengadu nasib dan berlindung dari segala ketidakjelasan tindak sosial dalam masyarakat. Sedangkan kepolisian dan LBH adalah lembaga yang semestinya merawat tunggul tersebut. Namun, dalam kasus tanah oleh PT. Bumi Flora Langsa, telah mengubah pandangan kita bahwa LBH adalah semut yang mesti dibakar oleh si kakek, yang dalam hal ini bertindak sebagai Polresta Langsa.

Pihak Polresta Langsa menganggap LBH serupa semut yang kelak akan menggerogoti segala gerak-gerik hukum kepolisian sehingga ada sesuatu yang manis, yang kelak tidak didapatkan pihak kepolisian (mungkin yang manis itu berasal dari PT. Bumi Flora). Maka, satu per satu awak LBH mesti dimusnahkan. Hal itu merupakan nada dari pengakuan Direktur LBH Badan Aceh, Afridal Darmi. Menurutnya, pemanggilan satu per satu “manusia tonggak” LBH merupakan upaya Polresta yang ingin menutup gerak LBH.

Maka, dongeng “Membakar Tunggul” yang dilakukan si kakek sedang dilakoni pihak kepolisan. Akan tetapi, harapan kita sebagai penonton, semoga saja LBH Banda Aceh bukan semut yang akan menggerogoti hukum di Aceh.

Semoga saja kita dapat berpikir suci terhadap semua fenomena dalam kehidupan kita sehingga cahaya fitri benar-benar kita dapatkan. Terakhir, kami ucapkan semoga kita dapat mengerti, paham, dan bertindak, terhadap semua kejanggalan yang kita lihat, dengar, dan rasakan. Seperti kata tuhoe, kami akan selalu mengerti, paham, dan bertindak.
Salam.