Tuhoe-02.pdf (129 downloads)

Bukan Sekedar Basa-Basi

“Tak perlu khawatir, masyarakat Blang Mee dan umumnya masyarakat di kecamatan Lhoong siap membantu kita. Seluruh masyarakat di sana siap memberikan rumahnya untuk tempat penginapan semua panitia dan peserta kongres.”

Demikian secuplik optimisme Budi Arianto, Sekpel JKMA Aceh ketika memberikan semangat kepada teman-teman di Sekretariat JKMA Aceh di salah satu rapat persiapan menghadapi kongres II JKMA Aceh.

Kiranya tak berlebihan optimisme tersebut. Berbilang tujuh hari, 1000-an masyarakat mewakili segenap Kabupaten yang ada di Aceh berkumpul di kemukiman Blang Mee. kenduri rakyat, musyawarah besar atau kami sebut dengan duek pakat raya, pentas seni masyaralat adat, pameran rakyat, dan berbagai pasar ide, mengalir selama kongres II JKMA Aceh berlangsung, kendati hari pembukaan dan penutupan hujan mengguyur lapangan bola kaki tersebut.

Maka, tak berlebihan pula, tuhoe mencatat perjalanan kongres tersebut sebagai laporan utama yang patut dijadikan acuan bahwa Aceh dan masyarakatnya cinta perdamaian.

Tak ada TNI, polisi, atau satpam untuk mengamankan kongres. Bukan berarti kami mengabaikan kepercayaan terhadap pemangku keamanan. Namun, ini sekedar pembuktian bahwa masyarakat adat dan lembaga adat di kemukiman dan gampông sangat menjunjung tinggi yang namanya keamanan, kendati perdebatan sengit–apalagi dalam musyawarah–adalah keniscayaan.

Seumpama metamorfosa semut merah yang hendak memindahkan dua atau bahkan tiga bangkai kecoa dari sebuah lumpur, sekali lagi tak berlebihan jika kami menyebut, bahwa masyarakat tahu yang terbaik bagi diri dan lingkungannya. Hanya saja selama ini kungkung penguasa mempersempit ruang gerak masyarakat adat. Kongres II JKMA Aceh membuktikan bahwa negara dan penguasa negeri sejatinya harus mempercayai masyarakat dan lembaga adat serupa kita percaya semut merah mampu memindahkan tiga bangkai kecoa dari lumpur.

Maka, kalau boleh kami mengambil pepatah bijak Aliansi Masyarakat Adat Nusantara, “Kami tidak akan mengakui negara, jika negara tidak mengakui kami.”

tuhoe, mencatat peristiwa ini sebagai momen sejarah yang patut kita jadikan menapak tilas memori penguasa terhadap rezim serba anggapan; menganggap masyarakat adat kolot, masyarakat adat terbelakang, masyarakat adat serba ketinggalan. Kemahfuman masyarakat adat, bukan sekedar basa-basi. Salam mengerti, paham, dan berbuat.