Buletin tuhoe I Tuhoe-01.pdf (194 downloads)

 Tuhoe: JKMA Aceh dan Metamorfosa Kupu-Kupu

Sekumpulan anak-anak muda itu berkumpul, berdiskusi, dan berdebat. Sambil lesehan di ruang pertemuan Keuchik H. Jaelani Hasan, Sekretariat JKMA Aceh, ditemani secangkir kopi, mereka asik saling timpal menimpali dan berargumen. Setelah hampir menghabiskan waktu satu jam, anggukan dan senyuman terlihat menghiasi wajah mereka. Mewujudkan mimpi melahirkan media komunikasi antar komunitas masyarakat Adat pun disepakati. Media yang menjadikan siapa pun membaca akan lebih mengerti, paham dan bertindak. Tuhoe, begitu nama yang ditabalkan untuk media yang baru terbit perdana di tahun 2007 ini.

Nyaris sebulan Herman RN, Anak muda kreatif ini, pontang panting menyiapkan berbagai bahan, mengaduk-aduk dokumen, mengejar dan mewawancarai narasumber. Tentu saja anak muda berperawakan kurus yang juga seorang cerpenis ini, menjadi sangat sibuk. Pasalnya Tuhoe bisa hadir di tengah-tengah Anda tak lepas dari ketajaman pena dan kegigihannya menjalankan tanggung jawab yang dibebankan kepadanya untuk memimpin dapur redaksi. Ia tak sendiri, Fathir alias Olqi, pemuda ganteng nan pendiam itu pun kali ini tak tinggal diam. Berjam-jam ia duduk di depan komputer, mengkotak-katik bongkar pasang tata letak Tuhoe sehingga Anda merasa nyaman membolak balik media yang berada di tangan Anda ini.

Tuhoe, sengaja kelahirannya dibarengkan dengan kongres JKMA Aceh ke II. Ini sekaligus sebagai penanda, bahwa JKMA Aceh mulai bangkit kembali mengisi ruang-ruang gerak masyarakat adat dalam memperjuangkan hak-haknya, setelah selama ini menempuh “jalan sunyi” menapaki sejarah, menelusuri jejak para endatu yang penuh dengan kearifan dalam laku dan tindak. JKMA Aceh menjadikan metamorfosa kupu-kupu sebagai pelajaran dari kearifan alam, kearifan ilahiah. Bermula dari seekor ulat yang tetap bertahan hidup, meski hujan dan terik, siang dan malam, marginal dan dipandang sebelah mata. Lalu ulat masuk ke dalam ruang-ruang sunyi. Melakukan meditasi, melakukan refleksi, olah pikir dan olah laku, melatih daya juang, melatih ketahanan sepanjang perjalanan, sepanjang malam, sepanjang siang, menahan godaan, menahan keangkuhan dunia luar dalam ruang yang pengap bernama kepompong.

Saatnya tiba, kelahiran Tuhoe, adalah upaya JKMA Aceh keluar dari kepompong keluar dari kepengapan. Mesti terbata-bata, terseok-seok, penuh dengan lendir dan jelaga. Ia tetap bertekad keluar secara alami sehingga JKMA bisa tumbuh secara alamiah dengan perjuangan yang tak harus terpaksa atau dipaksakan. Ia akan tumbuh sebagai dirinya. Ia akan mengepakkan sayapnya yang indah. Kelak layaknya kupu-kupu, ia akan muncul dengan keindahannya dan terbang memberi kehidupan bagi bunga-bunga yang tumbuh di alam dan dimanapun. Tentu saja lewat Tuhoe, JKMA Aceh akan menjadikan dirinya lebih mengerti,paham dan bertindak untuk mencapai cita-cita masyarakat adat berdaulat secara politik, mandiri secara ekonomi, bermartabat secara budaya dan adat. Semoga.