Joyah Kampung Pante Raya

Salah satu gerakan modernisasi Islam ditandai oleh perkembangan lembaga pendidikan. Dengan sistem pendidikan yang terbuka bagi semua, lahir banyak tokoh muslim dari orang kebanyakan yang akhirnya menduduki kepemimpinan Indonesia di awal kemerdekaan hingga saat ini.

Gerakan pendidikan Islam modern juga mempengaruhi kaum perempuan, yang dilandasi oleh pikiran maju bahwa laki-laki dan perempuan memiliki hak yang sama mendapat ilmu pengetahuan.

Di Sumatra Barat dikenal tokoh perempuan ulama seperti Rasuna Said dan Rahmah El Yunusiyah. Keduanya tokoh penggerak pendidikan perempuan di Indonesia. El Yunusiah merupakan pendiri Diniyah Putri pertama di Indonesia. Keberadaan Diniyah Putri ini justru mendapat respon dan penghargaan dari universitas Al Azhar Kairo. El Yunusiah mendapat gelar Syaikhah. Apa yang dilakukannya menjadi cikal bakal dibukanya Kulliyatul Lil Banat, fakultas yang dikhususkan untuk perempuan di Universitas Al Azhar Mesir.

Gerakan El Yunusiyah berawal dari Padangpanjang, Sumatra Barat, lalu berkembang hingga gaungnya sampai ke Tanah Rencong. Sejarah juga mencatat Rasuna Said mengirimkan utusan ke Aceh mengumpulkan pundi-pundi untuk membangun pesantren khusus kaum perempuan.

Di tanoh Gayo, gerakan kaum perempuan dalam mengembangkan pendidikan juga dapat dideteksi dari adanya sebuah lembaga bernama Joyah. Joyah sendiri berasal dari kata Zawiyah, yakni tempat pendidikan bagi kaum perempuan, yang dipimpin oleh Tengku Banan (guru perempuan). Biasanya, Joyah dibangun di dekat sumber air sesuai dengan kebutuhan perempuan. Sambil perempuan menyelesaikan pekerjaan rumah tangga seperti mencuci dan mandi, mereka bisa meluangkan waktu naik ke Joyah, bertemu guru dan belajar ilmu agama.

Kegiatan utama Joyah adalah belajar membaca al-Quran, memahami artinya, dan belajar hukum-hukum ibadah lainnya. Namun, dengan berkembangnya kehidupan saat ini, keberadaan Joyah di tanoh Gayo semakin terancam. Kini, orang-orang sudah memiliki kamar mandi dan tempat buang hajat sendiri di rumah masing-masing.

Kian Hilang

Joyah Kampung Pante RayaDalam sebuah artikel di lintasgayo.co disebutkan bahwa Joyah merupakan tempat khusus bagi kaum wanita di usia senja untuk belajar Islam. Tulisan yang disarikan dari sebuah skripsi mahasiswa IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu mendefenisikan Joyah sebagai sebuah bangunan samping yang kecil dekat masjid yang antara lain dipakai untuk memberi pelajaran Agama Islam. Sebuah Joyah dapat disamakan dengan surau.

Masing-masing Joyah dikepalai oleh seorang tengku wanita. Namun, dalam sejarah Joyah pernah juga tengku pria menjadi ketua, seperti Tengku Lah. Namun, Tengku Lah tidak bertahan lama karena hulubalang (kepala distrik) di Bebesen menganggap hal itu tidak pantas dan kemudian digantikan dengan tengku wanita. Salah satu kriteria terpenting bagi tengku harus memiliki pengetahuan tentang hukum Islam dan Agama.

Peran tengku pun tidak terbatas hanya di dalam Joyah saja, tetapi lebih meluas lagi ke sisi sosialnya. Tengku tidak hanya bertindak sebagai pemimpin Joyah sehari-hari, tetapi juga memimpin doa dan menjadi juru bicara bagi penghuni Joyah. Jadi, pemegang prestise yang tertinggi dalam Joyah adalah tengku guru. Dua kali seminggu tengku guru mengunjungi kedua Joyah secara bergilir untuk memberikan pelajaran agama dan untuk memimpin dalam salat.

Penulis pernah mengunjungi beberapa kampung di Kabupaten Bener Meriah, antara lain Kampung Delung Tue, Delung Asli, Tingkem Asli, dan Gunung Kecamatan Bukit. Selain itu, penulis juga berkunjung ke Kampung Pante Raya. Dari semua kampung yang penulis kunjungi, Kampung Gunung dan Kampung Tingkem Asli tidak lagi memiliki Joyah. Di lokasi tersebut hanya tinggal fasilitas MCK yang sudah terbengkalai dan tidak terpakai. Penduduk yang tinggal di sekitar lokasi Joyah mengaku bahwa Joyah tersebut sudah sangat lama dibongkar.

Fatimah, 45 tahun, warga Kampung Gunung, mengatakan semua aktivitas ibadah sehari-hari serta kegiatan pengajian kini dipusatkan di mesjid Kampung Gunung, termasuk kegiatan pengajian kaum ibu. Ia juga menyebutkan bahwa di sana tidak lagi ada tengku banan.

Hal yang sama juga terjadi di Kampung Tingkem Asli. Bangunan Joyah sudah tidak ada lagi, yang ada hanya fasilitas MCK. Sementara di Kampung Delung Tue dan Delung Asli, masih ditemukan bangunan Joyah. Namun, kondisinya sudah memprihatinkan. Joyah di sana tidak lagi digunakan karena bangunan sudah tidak layak.

Di Joyah Kampung Delung, fungsi ibadah dan pengajian tidak lagi berjalan. Di sekitar MCK terlihat tumpukan sampah yang membuat kondisi Joyah terlihat kumuh. Kegiatan pengajian sekarang dipindahkan ke Mersah Tue, sekitar 200 meter dari Joyah. Itu pun kondisinya sudah sama seperti Joyah, tidak layak pakai. Bangunannya sudah tua, dindingnya sudah banyak yang lapuk termakan waktu.

Joyah di Kampung Pante Raya, Kecamatan Weh Pesam, juga sudah lama tidak dipakai sebagai tempat kegiatan mengaji dan ibadah. Belakangan, bangunan Joyah yang masih bagus ini juga sudah dibongkar karena terkena perluasan mesjid Kecamatan Wih Pesam. Padahal, hampir 40 tahun lalu di Joyah ini telah berdiri kelompok pengajian pimpinan Riyah Inen Ikong. Joyah atau Mersah Banan ini sempat memiliki puluhan orang murid warga Kampung Pante Raya dan sekitarnya, pengajian dilakukan seminggu sekali di pagi Jumat.

Seperti Joyah di kampung lain, Joyah di Kampung Pante Raya juga dibangun di dekat sumber air bersih dan di halaman belakang mesjid besar. Saat ini, sebelum bangunan Joyah ini dibongkar, kelihatan bangunan masih rapi dan dijadikan tempat menumpang sementara oleh warga. Namun, kondisi debit air di parit besar samping Joyah sudah sangat menyusut. Dulu air di parit ini bisa mencapai lutut orang dewasa.

Epilog

Mengenal Joyah adalah sebuah upaya mencatatkan sejarah juang kaum perempuan di masa lalu. Dalam menjaga agama, alamnya, dan sekaligus juga kontrolnya di tengah masyarakat. Kepemimpinan Tengku Banan adalah keberadaan yang layak dan mutlak didukung. Sayang bila di era ini, di masa ilmu pengetahuan dan pendidikan telah kian maju, keberadaan ulama perempuan kian mundur.

Di masa-masa jayanya, tiap kampung di Gayo memiliki Joyah. Bisa jadi pasca-kehadiran mesjid-mesijid baru yang lebih megah, lambat laun Joyah semakin ditinggalkan. Kemunduran Joyah dimulai sejak tahun 1990-an akhir dan makin menggeser kebiasaan warga Gayo dalam mengikuti pengajian bersama Tengku Banan. Masih dibutuhkan penelitian yang lebih mendalam mengapa hal ini terjadi. Wallahua’lam bisshawab.

*Ket Photo: Joyah (Mersah Banan) Kampung Pante Raya. Photo ini diambil di pertengahan 70an. Riyah Inen Ikong (Tengku Joyah ) berada kursi paling kiri didampingi oleh Tgk. Jemadil, pria berkain merah muda tidak dikenali oleh penulis, Aman Suhada (memangku anak laki-laki), Tengku Mukim, dan Gecik Aman Tijah, Istri Gecik Aman Tijah, dan Datu Gunung… .

Sri Wahyuni 

Oleh Sri Wahyuni
—Aktivis Perempuan dan Anggota Forum DAS Krueng Peusangan—

Dimuat di Buletin Tuhoe Edisi XIX, Juni 2017