tuhoe 12 peutimang aman tawar nariAman Tawar merupakan pengarang didong yang berdomisili di Kuyun, Kecamatan Celala. Sekali waktu ia memperdengarkan karyanya. Nyanyiannya cukup menarik. Bertema sejarah dan lebih khusus lagi sejarah Radio Rimba Raya, satu-satunya radio di zaman revolusi yang menyuarakan suara Indonesia ke luar negeri.

Aman Tawar berjenggot putih seperti pengarang R. Tagore dari India atau A. Samad Said, penyair dari Malaysia. Ia mempunyai kebiasaan membawa buku dan menulis di mana saja. Tak ayal ratusan karyanya berupa didong Gayo tercatat dalam sejumlah buku. Semuanya ditulis tangan lengkap dengan tanggal pembuatan.

Didong “Radio Rime Raya” salah satu dari karyanya yang bercerita tentang sejarah. Masih ada sejumlah didongnya yang lain yang mengandung unsur sejarah. Bagian awal “Radio Rime Raya” ia mengatakan bahwa Radio Rime Raya (Radio Rimba Raya) bertugas menyampaikan berita ke semua tempat termasuk ke luar negeri. Dari Rimba Rayalah berita juga disampaikan ke New Delhi. Selanjutnya, digambarkan pula Radio Rimba Raya yang mencatat sejarah kebangsaan dengan berhasilnya menyampaikan berita ke luar negeri yang diawali sejak tahun 1947.

Radio Rimeraya nosah sieren/ Nosah pekeberen ku Luer Negeri / Ari Rimeraya keber isawahan/ Ku rakan-rakan ini Nyudelhi/ Radio Rimeraya sejarah kebangsaan/ Sidepet munentuken keber ku Luer Negeri/ I awal opat tujuh mulo ni sieren/ Aceh tengah Takengon I Rimeraya ni//

Disebutkan pula bahwa New Delhi sebagai perwakilan yang kemudian menyampaikan berita dari Radio Rimba Raya ke seluruh negeri. Diceritakan lebih detail tentang berita beranting pada masa perjuangan Indonesia saat itu. Disertai doa pada awal siaran lalu ucapan atas keselamatan kepada Presiden RI, Sukarno dan Hatta. Kemudian dikisahkan bagaimana seorang berpangkat mayor dengan caranya sendiri dapat menyeludupkan radio ke Indonesia yang berfungsi sebagai Radio Rimba Raya.

Ini Nyudelhi sebagai perwakilen/ Keber kusawahan ku tiep negeri/ Secara beranting keber isawahan/ Beta perjuangan Indonesiani/ Sieren doa mulo I sieren/ Keselamatan ku Sukarno Hatta ni/ Mayor laut nos kebijaksanaan/ Depet munyeludupen ni Radio ni//.

Siapa gerangan tokoh yang dapat menyeludupkan radio itu ke Indonesia? Disebutkan oleh A. Tawar, itu dilakoni seorang pahlawan bernama Jonly. Tokoh ini berjuang dengan gagah berani membawa radio tersebut melalui selat Melaka yang saat itu dijaga ketat. Dalam perjalanannya, Jonly mendapat serangan tembak dari pihak Belanda. Begitulah, dengan bot kecil radio yang diselundupkan berhasil sampai di tempat tujuan.

tuhoe 12 peutimang image001Seniman Aman Tawar sedang menari dengan seorang warga Perancis bersama grup kesenian Gayo di lapangan Musara Alun Takengon, Lut Tawar. (Foto: L.K. Ara)

Ketika radio selundupan itu berhasil tiba di Aceh, ditemukan pula seorang Belanda yang bersimpati terhadap perjuangan Indonesia. Dialah yang diberi kepercayaan untuk menyampaikan berita-berita lewat Radio Rimba Raya.

Dalam perjalanan waktu, radio yang memulai siaran di Aceh, karena alasan keamanan kemudian dipindahkan ke Rimba Raya, Kabupaten Aceh Tengah (kini masuk wilayah Kabupaten Bener Meriah). Disebutkan dalam didong A. Tawar, seorang tokoh yang gigih dalam peristiwa ini Bustanil Arifin.

//Ku Aceh Besar Radio iserahan/ Depet kawan belene sara mi/ Wesehul kin percayaan/ Muluah sieren si pane penadi/ Kerna I Aceh ragu keamanan/ Radio I pinahan ku rimeraya ni/ Bustamil Aripin oya le rupen/ Si kuet mulewen Indonesia ni//

Diceritakan bahwa Bustanil Arifin bergabung dengan devisi lima yang dalam perjuangan ditambah lagi dengan devisi 10. Untuk ini, dikenal nama besar saat itu, Kol Husin Yusuf sebagai pimpinan. Pada siaran Radio Rimba Raya juga disebutkan seorang tokoh lainnya ialah Ali Hasjmy.

Siaran terus menerus berlangsung dengan semangat juang yang berkobar. Siaran itu diterima di Malaysia, Manila, Australia, hingga Eropa. Suara Radio Rimba Raya selalu mengumandangkan suara perjuangan. Begitulah enam bahasa dipancarkan sehingga luar negeri kadang-kadang merasa heran. Di sana timbul harapan bahwa suara dari Indonesia masih didengarkan.

//Onom bahasa i luah sieren/ Sana gere heran luar negeri/ Radio Rimeraya mulo i aranan/ Si nguk iperinen puset ni Indonesia ni//

Pada bagian akhir kisah Radio Rime Raya, pengarang menyebutkan radio tersebut hendaknya jangan dilupakan. Tak dapat rasanya dihilangkan dari ingatan karena ia sudah menanam budi. Begitulah diriwayatkan meski secara ringkas, tetapi hendaknya dapat menjadi kenangan-kenangan untuk generasi mendatang.

//Radio Rimeraya kami gere lupen/ Gere terbenen sebeb gere mubudi/ Ringkes riwayat ini kusawahan/ Kin kenang-kenangan kugenerasi//

oleh L.K. Ara Penyair asal Tanah Gayo


Dimuat di Buletin Tuhoe Edisi XII, Mei 2010