tuhoe 4 g.cut - aceh masa ke masa

Membicarakan Aceh adalah sebuah nama yang memiliki se­jarah panjang dan berliku, penuh pergelutan, dan terkadang semburat bangga membahana di hati masyarakatnya. Bukan hanya itu, bangsa luar pun turut bangga dan kagum menden­gar nama Aceh. Namun, itu dulu. Kata tuhoe, sekarang Aceh hanya sebuah nama pengundang lara. Akan tetapi, tak usah pedulikan lara itu, mari berbincang sekilas tentang Aceh, ten­tang kita dan ranah Seramoe kebanggaan ini, tentang tanah penuh duka lara ini.

tuhoe | Banda Aceh – Kata “Aceh” ada yang menterjemahkannya dari “Arab, Cina, Eropa, dan Hindia” sehingga disingkat menjadi “Aceh”. Pendapat ini dilanjutkan dengan praduga karakter orang Aceh, terutama secara fisik, memiliki kemiripan dengan bangsa-bangsa yang disebutkan di atas. Misalkan, bermata sipit mirip orang Cina, bermata biru mirip orang Portugal (Eropa), berjanggut lebat mirip orang Arab, dan berkulit sawo mirip orang India (Hindia).

Sementara itu, Prof. DR. H. Hanat Fatah Natsir, M.S., berpendapat bahwa nama Aceh berasal dari kata “Aca” yang artinya saudara perempuan. Rektor IAIN Sunan Gunung Djati Bandung yang merupakan alumni Pusat Latihan Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial (PLPIIS) Universitas Syiah Kuala Banda Aceh itu mengatakan bahwa kata-kata “Aceh” berasal dari ba’si Aceh-Aceh, semacam pohon beringin besar yang rindang, (Pikiran Rakyat, 12 Februari 2005).

Melihat persoalan nama saja, jelas Aceh memiliki sejarah panjang dan berliku, apalagi kehidupan masyarakatnya. Maka, membaca Aceh sama dengan membaca zaman, sehingga Aceh dapat dibagi dalam beberapa zaman.

Pertama
Kedatangan Islam hingga berdiri kerajaan Islam pertama di Aceh (225 H). Kerajaan dimaksud berdiri di Peureulak, Aceh Timur. Perkembangan berikutnya kerajaan Islam di Aceh semakin meluas dengan berdirinya Kerajaan Islam Darussalam, Kerajaan Islam Pidie, dan Kerajaan Islam Jaya. Aceh mencapai puncak kegemilangan pada masa Iskandar Muda (1607-1636). Pada masa ini Aceh mempunyai struktur pemerintahan yang sangat lengkap, mulai pola administrasi pemerintahan, kebudayaan, adat-istiadat, sampai undang-undang.

Kedua
Babak kedua adalah masa Aceh mengalami kemunduran peradaban, yaitu sejak perang melawan kaphé Beulanda dimulai (1873). Masa ini tenaga dan pikiran tidak lagi dicurahkan untuk pembangunan nanggroe, melainkan lebih kepada usaha mempertahankan diri dari musuh.

Ketiga
Masih pada fase terpuruknya Aceh. Aceh semakin terperosok ketika dinobatkan bergabung dengan Indonesia. Bangsa Aceh mulai melakukan perang saudara pada masa ini, mulai perang melawan DI/ TII, GPK, hingga Gerakan Aceh Merdeka, yang intinya adalah sesama Islam dan sedarah Aceh.

Keempat
Babak ini masih sisa dari babak sebelumnya, yaitu perang melawan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Berbagai operasi kemiliteran yang berintikan penindasan kepada rakyat kecil digelar di Aceh. Pada masa ini masyarakat Aceh sangat terjepit. Pasalnya, baik Tentara Nasional Indonesia (TNI) maupun tentara GAM adalah sama-sama memiliki personil berdarah Aceh. Baik GAM maupun TNI/ Polri sama-sama memiliki peranan melukai hati masyarakat Aceh. “Aceh sabé Aceh dipeuantôk,” demikian sederhananya. Karena itu, kata “damai” pada masa ini dianggap masyarakat Aceh jauh panggang dari api. Beberapa kali perundingan telah dilakukan, Aceh tetap karu sabé. Henry Dunant Center (HDC) dan Join Security Commite (JSC) yang dijadikan sebagai jalan tengah tidak berhasil mendinginkan suasana.

Kelima
Pada babak ini ketakpercayaan masyarakat terhadap perdamaian di Aceh terjadi akhirnya terwujud. Mulanya pada zaman ini ada anggapan sebagian orang kalau Aceh benar-benar akan hilang. Pasalnya, pada masa ini musibah terbesar sepanjang umur dunia mutakhir terjadi, yakni gelombang besar tsunami meluluhlantakkan sebagian wilayah Aceh. Namun, pada masa ini pula impian masyarakat Aceh terhadap kata “damai” terwujud. Karena itu, babak ini dikatakan juga sebagai babak kegemilangan Aceh kembali.

Kendati kata “damai” sudah sering terjadi di Aceh sejak zaman dahulu, tapi damai kali ini menjadi menarik bagi Aceh, Indonesia, atau bahkan dunia. Perdamaian ini menarik bukan hanya karena setelah pertikaian sesama saudara, tetapi juga dikarenakan setelah musibah mahadahsyat itu terjadi. Hal ini jelas menunjukkan kuasa Allah telah membuka mata dan hati manusia terhadap keraguan damai akan mampir di Aceh.

Namun demikian, membaca Indonesia—membaca Aceh, dan membaca damai yang menjadi sejarah panjang di Aceh, maka kegemilangan ini dikhawatirkan memudar manakala pusat (Jakarta) masih belum bisa memberikan kepercayaan penuh kepada Aceh untuk mengatur rumah tangganya.

Sejarah damai di Aceh ibarat sebuah siklus yang berputar terus menerus. Perang–damai–perang lagi–damai–perang lagi–dan damai kembali. Artinya, Aceh sudah beberapa kali mendapatkan predikat damai, mulai damai setelah mengusir Belanda, DI/ TII, dan GAM. Pada masa GAM kontra RI, pun kata damai sudah beberapa kali diterima Aceh. Namun, perang belum berhenti.

Oleh karena itu, damai saat ini bisa bersifat sementara manakala kita, mereka, atau siapa saja tidak memiliki kesabaran dalam memelihara damai. Semuanya dibutuhkan kepercayaan dan kesadaran. Kepercayaan pusat terhadap Aceh dalam mengatur pemerintahannya sendiri, terutama di tingkat bawah (mukim dan gampông); kesadaran kita sebagai warga negara dalam menjalankan kehidupan sesama makhluk hidup.


Dimuat di Buletin Tuhoe Edisi IV, Desember 2007

Sumber foto (dari kiri atas)
Dok. JKMA Aceh (1, 6, 9, 11, 16, 18, 21, 22) | www.khairulid.multiltiply.com (4) | www.aceh-mm.org (2, 12) | www.acehtimes.com (5, 13, 17, 19, 24) | buku sejarah aceh (8, 10, 15, 20, 23) | www.students.ukdw.ac.id (3) | www.munawir.wordpress.com (7) | www.indonesia.go.id (14)